Souls of September, 2007

B5’s “DONT TALK, JUST LISTEN”
– Letting go the old notions..

Release Date: September 11, 2007

sep-11-b5-2007-dont-talk-just-listen.jpgKelompok ini pertama muncul di tahun 2005, dengan rentang usia antara 11-17 tahun, lima bersaudara ini langsung membuat para remaja cewek menahan nafas saat menyaksikan penampilan mereka. Good looking, talented and charming. Ketiga hal itu langsung membawa album perdana mereka menaiki tangga lagu Billboard 200 hingga 20 besar, dan mencapai peringkat ke 7. Kini, Dustin (19), Kelly (18), Patrick (16), Carnell (15) and Bryan (13) kembali dengan album baru mereka. Dirilis dengan bendera Bad Boy Records milik Diddy, mereka tampil dengan konsep baru. Seiring perkembangan usia mereka sekarang, fans tidak akan menemukan tema lirik seputaran high school. Album ini lebih banyak menceritakan hangout, chilling, serta clubbing, seperti layaknya anak muda jaman sekarang. Ada satu track yang menarik perhatian saya di album ini,yaitu “No One Else”, yang merupakan versi acappella dari hit lama milik Joe, No One Else Comes Close.

Personal highlights: Hydrolics, She Got It Like That, All Over Again, No One Else and Things I Would Do.

 

KANYE WEST’s “GRADUATION”
– Comes the 3rd part of the trilogy..

Release Date: September 11, 2007

sep-11-kanye-west-2007-graduation.jpgdari segi kualitas produksi, ini adalah salah satu terbaik dari yang pernah saya dengar di tahun 2007. Kanye West melanjutkan tema albumnya. Setelah College Drop-Out dan Late Registration, kini tampil Graduation. Masih berbekal kemampuan spesialnya untuk ‘menyusupkan’ potongan sample lagu lama ke dalam aransemen lagu-lagunya, Graduation dirilis dalam 9 track. Jujur aja, saya kurang suka dengan gaya rap Kanye yang menurut saya seringkali terasa begitu monoton. Kalimat rap kanye yang sangat saya suka justru hadir di album Pharrel, dalam track Number One, juga pada lagu milik John Legend, berjudul sama. Tapi lagu Champion yang ada di album ini cukup menarik untuk disimak koq. Terlepas dari refrainnya yang (terlalu) pendek, musiknya terasa sangat cocok dengan kalimat rap khas Kanye. Flashing Lights juga baik, hanya menurut saya musiknya justru lebih cocok untuk mengiringi melodi vokal ketimbang diisi dengan rap.

Personal highlights: Champion, Flashing Lights, and Everything I Am.

 

BABYFACE’s “PLAYLIST”
– A (too much?) swing back to the oldies..

Release Date: September 18, 2007

babyface-2007-playlist.jpgDapat dipahami bahwa sebagai salah satu bintang radio terbesar di era 90an, Kenneth Brian “Babyface” Edmonds mengawali karir musiknya dengan mendengarkan lagu-lagu hit milik James Taylor, Dan Fogelberg, dan Dave Loggins. Hal ini membantu saya untuk memahami alasannya merilis album berisikan tembang-tembang lawas yang berpengaruh besar bagi dirinya di masa lalu. Yang kurang saya pahami adalah begitu sedikit aransemen yang dilakukannya pada lagu-lagu di album ini, hingga pada saat saya mendengarkan track terakhir, saya merasakan suara Babyface menjadi sangat awfully, awfully, awfully white.

No highlights on this one, it’s too damn awful.

 

JILL SCOTT’s “THE REAL THING: WORDS AND SOUNDS VOL. 3”
– A tiny step back, is it? Yes it is..
Release Date: September 25, 2007

jill-scott-2007-the-real-thing-words-and-sounds-vol3.jpgDi awal perkembangan era neo-soul, Jill Scott dan The Roots datang dengan segala keindahannya. Kejujurannya dalam bermusik patut dipuji. Tampil sebagai dirinya sendiri, ia berani dan mampu menuangkan apa yang ada dalam pikiran melalui setiap lagunya. Idenya begitu nyata, terasa dalam setiap lirik dan musik yang dimainkannya. Ini adalah album keempat dari Jill, dan terus terang saya agak kecewa dengan album ini. I mean, saya mengerti akan kehidupan pribadinya yang penuh konflik, dan kagum saat ia mampu mengubahnya menjadi lagu yang begitu jujur, tapi untuk mendengarkan hal yang sama sampai pada album keempat? I don’t think so. At least for me. Yang bener aja. Memang sinis kedengarannya, tapi itulah yang saya rasakan saat saya mencoba untuk menikmati album ini. Talenta yang dimiliki Jill Scott tidak berkurang, terasa dalam musik dan nada-nada yang mengalun di setiap lagunya. Saya hanya terganggu dengan isi lirik yang dinyanyikannya. Bukan berarti album ini jelek, hanya saja tak ada perkembangan yang berarti dari tema liriknya.

Personal highlights: Come See Me, Insomnia, Whenever You’re Around, and Wanna Be Loved.

 

KEYSHIA COLE’s “JUST LIKE YOU”
– A classic, yet a better album..

Release Date: September 25, 2007

keyshia-cole-2007-just-like-you.jpgPertama kali saya mengenal Keyshia Cole adalah melalui tembang “Love” dari album perdananya (I remember rushing to my girl and tell her to listen to the track saying that she’s so gonna luv this one for sure). Saat mendengar suaranya, saya temukan kemiripan dengan vokal Mary J. Blige dalam tarikan suaranya. Tanpa mengurangi rasa kagum saya, Mary membutuhkan waktu sepuluh tahun untuk mencapai tingkatan seperti keyshia, sementara Keyshia hanya membutuhkan waktu satu tahun saja. Walau tampil lebih bling dari album sebelumnya, Keyshia tetap bertahan pada kekhasannya, menampilkan lagu bernuansa vintage dengan warna baru. Ada beberapa lagu up-tempo di album ini, tapi saya masih lebih suka mendengarkan tembang ballad serta mid-temponya. Tembang tersebut masih menjadi gaya terbaik keyshia. Walaupun disini tidak ada tembang dengan nafas sekuat “Love”, namun dari sisi kualitas lirik, vokal, serta aransemen musik, album kedua ini jauh lebih baik.

Personal highlights: Fallin’ Out, Work It Out, and Losing You.

 

QUEEN LATIFAH’s “TRAV’LIN’ LIGHT”
– Classic, and classy.. Long live the Queen!

Release Date: September 25, 2007

queen-latifah-2007-travlin-light.jpgThe Queen is back! Kembali dengan album bernuansa standard jazz, lagu-lagu di album ini terasa begitu smooth dan mellow. If you ever need some music to be heard while you’re in a bathtub, or some other things that leads you to relaxing, then this is a perfect CD for you. Latifah adalah salah satu artis dengan banyak talenta, dengan kemampuannya untuk memainkan berbagai peran. Sebuah contoh nyata dari apa yang seringkali disebut khalayak umum sebagai –a classic example of versatility. Cukup lama saya mengikuti kiprahnya dalam dunia hiburan, dan telah melihatnya melakukan berbagai macam pekerjaan, mulai dari bermain film (Dengan segala jenis peran, tentunya), menjadi penyanyi, rapper, dan masih banyak lagi. Ia bahkan mampu berpindah dari satu peran ke peran lainnya hanya dalam sekejap mata. Kinda does it all, right? And even Beyoncé can’t do that.

Personal highlights: Georgia Rose, I’m Not In Love, and How Long (Betcha Got A Chick On The Side).

 

RAHSAAN PATTERSON’s “WINES & SPIRITS”
– Revelation to the new soul..

Release Date: September 25, 2007

rahsaan-patterson-2007-wines-spirits.jpgAda beberapa musisi yang sangat saya kagumi, hingga saya tak perlu banyak menimbang dan membaca berbagai review untuk memiliki albumnya. Salah satu diantaranya adalah Rahsaan Patterson. Lagu “So Fine” dari album pertamanya sepuluh tahun yang lalu sukses menjadikan saya sebagai fans berat dari penyanyi dengan karakter suara khas ini. Album keduanya Love In Stereo yang dirilis dua tahun kemudian kembali menjadi koleksi favorit saya. Album ketiganya Afterhours yang dirilis pada tahun 2004 mampu mengobati kerinduan saya akan gaya bermusik Maxwell, yang lama saya tunggu albumnya sejak 2001. Vokalnya mampu menyatu begitu harmonis dengan nuansa musik yang mengiringinya. It’s just simply amazing. Love In Stereo masih merupakan album terbaiknya, namun ada beberapa lagu di album ini yang menurut saya adalah bukti nyata dari perkembangan nafas musikalitasnya. Tema akustik yang diangkat dalam lagu “Stop breaking My Heart” terdengar begitu smooth di kuping saya, dan tak mampu saya hilangkan dari kepala saya hingga saat ini. Di album keempat ini ia mencoba menguji dirinya untuk melangkah melebihi batas, bereksperimen mulai dari fresh alternative dance beats, sampai ke retro gospel shades dan infectious joy. Memakan waktu hampir 3 tahun dalam proses pengerjaannya, Wines & Spirits menjadi bukti nyata mengapa Rahsaan mampu memberi pengaruh besar pada musisi lain dari Van Hunt hingga Brandy.

Personal highlights: Stop Breaking My Heart, Feels Good, and No Danger.

 

DONELL JONES’ “THE BEST OF DONELL JONES”
– A parade of slow, mid-tempo hits..

Release Date: September 25, 2007

sep-25-donell-jones-2007-the-best-of-donell-jones.jpgSejak memulai karir di dunia musik 11 tahun lalu, Donell Jones terkenal dengan hit slowjamsnya seperti Where I Wanna Be dan Shorty. Kini setelah sebelas tahun berlalu, La Face mempersembahkan sebuah album kompilasi, menyajikan 13 notable tracks dari berbagai album milik Donell. Mendengarkan album ini, menyadarkan saya begitu banyak eksplorasi yang dilakukannya. Bagi saya, ciri utama dari Donell terasa pada tembang-tembang laid-back miliknya, alunan triol seperti yang terasa pada hit Where I Wanna Be dan Come Back. Sayang Come Back tidak dimasukkan dalam album ini. Satu lagi adalah kemampuannya untuk menyanyikan lagu mid-tempo secara smooth. Ini dibuktikannya dalam lagu U Know What’s Up, You Know That I Love You, dan This Luv. Sebagai tambahan, hit single Spend The Night masuk ke deretan lagu sebagai bonus track di urutan terakhir.

Personal highlights: Where I Wanna Be, U Know What’s Up, You Know That I Love You, and Knocks Me Off My Feet.

 

JAGGED EDGE’s “BABY MAKIN’ PROJECT”
– Carries on the tradition..

Release Date: September 25, 2007

sep-25-jagged-edge-2007-baby-makin-project.jpgKwartet Jagged Edge kembali bekerjasama dengan Jermaine Dupri, yang dulunya mengawali karir mereka di jalur urban contemporary r&b. Tak banyak perubahan dari Jagged Edge. Hilangnya grup-grup seangkatan mereka seperti Dru Hill dan Jodeci, membuat Jagged Edge tampil tanpa saingan berarti. Konsistensi mereka sebagai kelompok vokal dengan talenta di atas rata-rata, memiliki harmoni tersendiri, dan mampu menciptakan irama slowjams, membawa saya kembali ke album Jagged Little Thrill dan Hard. Satu-satunya bintang tamu dalam album ini hanya Ashanti, yang turut bernyanyi dalam hit single Put A Little Umph In It. Masih dalam tema cinta, album ini layak didengarkan saat candlelight dinner, and everything that happens afterwards.

Personal highlights: Way To Say I Love You and Get This.

 

WILL.I.AM’s “SONGS ABOUT GIRLS”
– Something is really wrong..

Release Date: September 25, 2007

sep-25-william-2007-songs-about-girls.jpgBertolak belakang dengan apa yang saya rasakan pada Kanye West, Will.I.Am yang merupakan pentolan dari kelompok Black Eyed Peas ini memiliki kemampuan yang luar biasa dalam menciptakan rhyme serta melodi yang begitu variatif dalam kalimat rap-nya. Ia juga tak segan bereksperimen dengan menabrakkan elemen lain seperti jazz dan rock ke dalam musiknya. Namun ada sesuatu yang hilang dalam album ini, entah apa. Real instruments? Mungkin saja. Karena bagi saya, album ini terasa begitu didjital. Bahkan track Impatient sangat mengingatkan saya pada tembang-tembang milik Tortured Soul.

Personal highlights: Over, Heartbreaker, Invisible, and Fantastic.

 

~ by Mahén on November 10, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: